Jumat, 02 Juli 2021

WHO Beri Nama Baru untuk 10 Varian COVID-19, Tak Pakai Nama Negara


Ilustrasi, sumber foto: Istimewa


Tangkas Jaya - Semakin banyak kasus mutasi COVID-19 saat ini. Untuk mengidentifikasinya, nama varian virus penyebab COVID-19 sering dikaitkan dengan negara tertentu untuk menjelaskan asal-usulnya.

Melansir dari siaran resminya, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), memberikan nama atau label baru untuk varian global virus bermutasi COVID-19 dengan alfabet Yunani.

Ada dua kategori, yaitu Variant of Concern (VOC) dan Variant of Interest (VOI).

"Label ini tidak menggantikan nama ilmiah yang ada (misalnya yang ditetapkan oleh GISAID, Nextstrain dan Pango), yang menyampaikan informasi ilmiah penting dan akan terus digunakan dalam penelitian," tulis WHO seperti dikutip dari situs resminya, Kamis (3/6/2021).

Apa itu VOC dan VOI?

VOC merupakan kategori varian virus corona (Sars-Cov-2) yang terbukti aktif dalam penularan dan menimbulkan gejala yang lebih parah, hingga berisiko kematian. VOC juga melemahkan antibodi manusia yang digunakan untuk melawan virus dan mengurangi efektivitas vaksin.

Sedangkan isolat SARS-CoV-2 merupakan Variant of Interest (VOI) yang genomnya mengalami mutasi dengan implikasi fenotipik yang pasti atau diduga, dan salah satu penularan komunitas atau beberapa kasus atau klaster COVID-19.

VOI juga telah terdeteksi di banyak negara dan dinyatakan VOI oleh WHO melalui konsultasi dengan Kelompok Kerja SARS-CoV-2 Virus Evolution.

Daftar label baru untuk varian COVID-19

Berikut nama-nama baru varian di grup Variant of Concern (VOC):

  • B.1.1.7: ALPHA (Deteksi awal di Inggris September 2020)
  • B.1.351: BETA (Deteksi awal di Afrika Selatan Mei 2020)
  • P.1: GAMMA (Deteksi awal di Brasil November 2020)
  • B.1.617.2: DELTA (Deteksi awal di India Oktober 2020)

Berikut nama-nama baru varian di grup Variant of Interest (VOI)

  • B.1.427/B.1.429: EPSILON (Deteksi awal di Amerika Serikat Maret 2020)
  • P.2: ZETA (Deteksi awal di Brasil April 2020)
  • B.1.525: ETA (Deteksi awal di sejumlah negara Desember 2020)
  • P.3: THETA (Deteksi awal di Filipina Januari 2021)
  • B.1.526: IOTA (Deteksi awal di Amerika Serikat November 2020) 
  • B.1.617.1: KAPPA (Deteksi awal di India Oktober 2020).
 
Risiko menggunakan nama negara untuk membedakan varian

WHO juga mengakui bahwa nama ilmiah yang terkait dengan varian COVID-19 seringkali sulit untuk diucapkan dan diingat. Terlepas dari kelebihannya, nama ilmiah rentan salah pelaporan, akibatnya orang sering menyebut varian berdasarkan dimana ia terdeteksi.

Namun, ada kelemahan menggunakan deteksi titik untuk membedakan varian ini. Menurut WHO, menggunakan nama tempat ditemukannya varian bisa menimbulkan stigma dan terkesan diskriminatif.

"Untuk menghindari hal ini dan untuk menyederhanakan komunikasi publik, WHO mendorong otoritas nasional, media, dan lainnya, untuk mengadopsi label baru ini," tulis WHO.


0 komentar:

Posting Komentar